Random Posts

Announcement:

selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

Kesakralan Pancasila Kalahkan Piagam Madinah

ilustrasi: Perang Badar
Pancasila dan Piagam Madinah tidak hanya mengisyaratkan kesejajaran pada penerimaan kelompok-kelompok beragam akan nilai-nilai kemanusiaan universal, tetapi juga mengimplikasikan adanya hak dan kewajiban yang sama pada kelompok-kelompok bersangkutan untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan berbangsa.

Hakikatnya, Pancasila dan Piagam Madinah memiliki kesamaan sebagai perjanjian luhur. perjanjian luhur seluruh bangsa untuk membangun, mencintai dan mempertahankan Indonesia. Demikian pula dengan Piagam Madinah yang disusun untuk maksud yang kurang lebih sama.

Maka, sudah selayaknya bagi kaum Muslim, sebagai komunitas terbesar dituntut memiliki komitmen kuat dalam pelaksanan Pancasila secara benar. Demikian pula halnya dengan dihilangkannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, tidaklah berarti sebagai kekalahan perjuangan politik umat Islam, bukan pula kita tidak setuju kalau syariah Islam tegak di bumi Indonesia.

Pancasila dan piagam madinah diyakini sebagai substansi yang sama sebagai sebuah ikatan perjanjian politis antar umat beragama. Bahwa, keduanya sama-sama dibangun atas dasar kesatuan umat, yang menghuni sebuah batas teritorial tertentu.

Piagam Madinah memberi hak sepenuhnya kepada tiap umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Demikian pula, Undang-Undang kita yang menjamin eksistensi agama dan peribadatan tiap warga negaranya.

Piagam Madinah mengakomodir semua golongan, justru dengan tanpa mencantumkan secara eksplisit “syariat Islam” ke dalam body-text-nya. Pancasila dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa sebenarnya sudah lebih mending, karena sudah secara tegas mengafirmasi kepercayaan monoteis.

Terlebih lagi, spirit yang diperoleh dari piagam ini menyatakan, tidak ada golongan yang mendapakan hak lebih sebagai warga negara dibanding golongan yang lain. Kesamaan derajat dihadapan konstitusi inilah yang kemudian mendasari salah satu isi Pidato Bung Karno pada hari kelahiran Pancasila, 1 Juni 1945. Beliau mengatakan: “Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, – tetapi “semua buat semua”. (islach)

Sabtu, 12 November 2016

Politik Perubahan Iklim Amerika Sebabkan Perekonomian Indonesia Hancur

Ilustrasi; Ketidakpastian cuaca di Indonesia
Baru-baru ini, banyak informasi beredar yang mengungkapkan bahwa negara adikuasa, Amerika menggunakan cara baru untuk membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Politik perubahan iklim. Entah itu benar atau tidak, pada kenyataannya cuaca Indonesia memang mengalami perubahan yang signifikan.

Biasanya, bulan-bulan ini suasana Indonesia lebih panas dan menyengat. Namun, pemandangan seperti dua tahun lalu itu tidak lagi nampak di negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia tersebut. Cuaca Indonesia tahun ini tidak menentu, seharusnya tanah-tanah gersang tak berair, kini justru langit seringkali menurunkan airnya, bahkan banjir terjadi di mana-mana seperti grobogan.

Sawah yang digadang-gadang dapat menghasilkan tanaman berkualitas dan segar, malah busuk. Terlebih di sebagian daerah, para petani gagal panen karena seringnya hujan turun dari langit Indonesia. Akibatnya, harga-harga sembako naik dan masyarakat semakin susah. Gagal panen dan harga makanan pokok meningkat drastis.

Masih ingat peristiwa hebat di Sumatera tahun ini? Kebakaran hutan yang mengakibatkan mangkraknya bandara dan kapal terbang di sekitar pulau Sumatera. Terkait sebab utama terjadinya peristiwa tersebut tak menjadi pembahasan utama kali ini. Akan tetapi, cara pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah ini yang perlu digarisbawahi, hujan buatan.

Hubungannya hujan buatan dengan politik perubahan iklim adalah bahwa Amerika dengan sengaja menghamburkan garam sebanyak-banyaknya di langit Asia. Hasilnya, langit Asia, terutama Indonesia sering menurunkan hujan. Dampak dari seringnya terjadi hujan bagi warga Indonesia, mereka (petani) pada umumnya menggarap sawah dengan tanaman cabai atau bawang merah -salah satunya-mengalami gagal panen. Karena sawah yang seharusnya kering dengan kadar air tidak banyak, kini malah terlihat seperti lautan, banjir, dan tanaman-tanamannya rusak.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengajak untuk memusuhi negara Amerika dan mereka yang mempunyai kepentingan adanya politik ini. Hanya saja, penulis ingin coba menggambarkan wacana yang beredar di kalangan intelektual muda. Semoga saja apa yang penulis tuliskan ini tidak benar. Hehe (Islach-goleng)

Jumat, 04 November 2016

Pancasila; Paradigma Kehidupan Beragama

Ilustrasi keberagaman di Indonesia
Agama, permasalahan yang masih terus bergulir dan belum menemukan titik temu sampai sekarang. Kasus Poso, Medan, dan Papua bisa kita ambil untuk dijadikan salah satu sampel, bagaimana konflik sosial dari perbedaan agama mampu membuat Indonesia terpecah belah, terpeta-petakan. Benarkah seperti itu, atau permasalahan itu hanya bersifat personal, di mana oknum-oknum melakukan tindak kriminal dengan mengatasnamakan agama? Namun, hal yang harus dipahami terlebih dahulu bahwa fenomena itu terjadi karena ketidakpahaman oknum atau warga Indonesia terkait bagaimana Pancasila itu dipahami dalam konteks keagamaan.

Hal yang paling mendasar dari perbincangan terkait agama dalam konteks undang-undang adalah bahwa setiap warga negara berhak untuk memeluk agama, tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Namun, negara mewajibkan rakyatnya untuk beragama, seperti yang tertera dalam dasar pertama dari Pancasila 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. Barangkali sudah mafhum, bahwa pada dasarnya semua agama mengajarkan nilai-nilai luhur bagi setiap pemeluknya untuk menciptakan tatanan kehidupan sosial yang aman dan tentram, bukan untuk membenci agama atau kelompok lain. Ketika para pemeluk agama mampu memahami agamanya secara komprehensif dan tidak adanya gangguan atau ancaman dari pemeluk agama lain, maka sudah sepatutnya terjadi keharmonisan di negara ini. (Pendidikan Pancasila, 2015: 188)

Begitu juga sila yang berbunyi 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab', agama mempunyai peran yang sangat urgen dalam rangka membentuk manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang juga dapat berlaku adil dan mempunyai perilaku yang luhur. Adanya konflik sosial yang agama mempunyai peran terjadinya fenomena itu, diperlukan suatu gagasan yang diharapkan dapat mempersatukan warga Indonesia dari berbagai suku, ras, dan agama. Hal itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari pertumpahan darah dari warga Indonesia sendiri, seperti istilah yang dipakai Presiden pertama kita, Soekarno, bahwa nantinya kita akan memerangi saudara kita sendiri. Era soekarno dkk berperang melawan penjajah yang sudah nyata kalau mereka bukan penduduk asli Indonesia. Berbeda dengan sekarang, justru permusuhan dan peperangan terjadi antar-penduduk pribumi sendiri. Untuk menjawab tantangan terkait gagasan pemersatu bangsa, Pancasila juga akan menjawab dengan lantang lewat sila ketiga, paradigma yang relevan untuk menyatukan bangsa, meskipun Indonesia kaya akan perbedaan, maka pedoman 'Bhineka Tunggal Ika' juga menjadi solusi progresif untuk membendung peperangan antar-saudara setanah air.

Bagaimana dengan sila selanjutnya, apakah dengan kita mengamalkan sila keempat dan kelima juga akan mendapatkan suatu pencerahan dari konflik sosial antar-agama? Para Founding Father negara kita pasti mempunyai cita-cita luhur dengan terealisasikannya keharmonisan antar-warga Indonesia sehingga tercipta kerukunan beragama. Maka dari itu, sila keempat memberikan amanah kepada semua warga Indonesia untuk menanamkan sikap kebersamaan dan meminta wakil rakyat untuk memiliki kebijaksanaan melalui musyawarah mufakat. Tentunya dengan konsepsi hikmat kebijaksanaan yang harus terpenuhi dalam diri warga Indonesia itu sendiri, jika ingin meneruskan perjuangan para pediri Negara ini. Setelah melewati fase permusyawaratan, diharapkan terjadinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana sila kelima dari dasar-dasar yang sudah dirumuskan oleh para tokoh pendiri bangsa ini.

Jika kita menilik sejarah dan memahami betul bagaimana seharusnya Pancasila diartikan, maka kita akan sepakat bahwa Pancasila akan selalu menjadi dasar yang relevan untuk terciptanya kemakmuran, kenyamanan, dan keharmonisan bagi semua warga Indonesia. Namun, hal itu terwujud jika, warga Indonesia dapat mengaplikasikan amanah para sesepuh yang rela berkorban jiwa dan raganya demi Indonesia tercinta ini. Jadi masalah perbedaan agama tidak lagi menjadi ancaman bagi kesatuan Republik Indonesia ini selama mereka pemeluk agama dapat memahami ajaran agamanya dan makna yang terkandung dalam Pancasila dengan baik. Maka bersiaplah untuk menjadi pelopor kesatuan bangsa yang besar ini.

Sudahkah kita mengaplikasikan amanah Pancasila untuk terciptanya kerukunan beragama? (Islach)



goleng

Copyright @ 2013 Wacana. Designed by Templateism | Love for The Globe Press